Friday, 28 December 2012

Sejarah Angkringan Di Jogja

Untuk mahasiswa yang berada di jogja dan yang khususnya mahasiswa darai luar daerah jawa atau mahasisaw perantauan. Dalam memanajemen uang harus pinter agar dapat hidup jauh dari orang tua. Namun kebiasaan para mahasiswa pada awal bulan atau sehabis dapat kiriman dari ortu makannya langsung ke yang mewah - mewah Fried Chiken Atau bebek penyet atau juga bebek kremes. Namun kalau udah akhir bulan dan kondisi nya udah kanker ( Kantong Kering ) larinya ke Angkringan atau cuma makan tempe penyet hehehe. Pengalaman saoalnya saya juga anak kos. Namun temen - temen apa pada tahu sejarahnya angkringan. Ini saya share yang saya baca dari beberapa situs.
sejarah Angkringan Jogjaangkringan lik man
Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta.
Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.
Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula.
Kini angkringan sudah menjamur di kota-kota besar maupun kecil di seantero nusantara. Bahkan kabarnya ada lho angkringan yang menerapkan sistem penjualanya dengan franchise atau waralaba,,,angkringan cekli

Reactions:

0 comments:

Post a Comment