Senin, 03 Desember 2012

Nabi Tidak Suka Tidur sebelum Sholat Isya dan Tidak Suka mengobrol setelah Sholat,,Maksudnya??


Obrolan yang tidak disukai Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah obrolan mubah yang tidak ada kebaikan bagi orang yang mengucapkannya. Adapun jika obrolan itu bernilai kebaikan seperti membicarakan urusan kemaslahan kaum muslimin, Tholabul ilmi, diskusi hukum syara' dan yang semakna dengannya maka tidak ada kemakruhan.


Hadis yang ditanyakan dalam pertanyaan di atas lafadznya sebagai berikut;

صحيح البخاري (2/ 410)
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Dari Abu Barzah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak suka tidur sebelum shalat ''Isya' dan berbincang-bincang setelahnya."
(H.R. Bukhari)

Hadis ini memang cukup lugas menunjukkan ketidaksukaan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengobrol dan berbicara setelah shalat 'Isya'. Maknanya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lebih menyukai langsung tidur setelah shalat 'Isya'. Riwayat-riwayat lain yang semakna;

سنن ابن ماجه (2/ 396)
 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَلَا سَمَرَ بَعْدَهَا

Dari Aisyah ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak tidur sebelum 'Isya' dan tidak berbincang-bincang setelahnya."
(H.R. Ibnu Majah)

سنن ابن ماجه (2/ 397)
 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ جَدَبَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّمَرَ بَعْدَ الْعِشَاءِ يَعْنِي زَجَرَنَا

Dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang kami berbincang-bincang setelah 'Isya', yakni melarang dengan peringatan kepada kami."
(H.R.Ibnu Majah)

سنن الترمذى - مكنز (1/ 297، بترقيم الشاملة آليا)
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ سَمَرَ إِلاَّ لِمُصَلٍّ أَوْ مُسَافِرٍ ».

Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak ada obrolan (setelah shalat 'Isya'`) kecuali bagi orang yang sedang shalat atau orang yang bepergian." (H.R. At-Tirmidzi)

Diantara hikmahnya, langsung tidur setelah shalat 'Isya' akan membuat seorang muslim akan bisa shalat malam dan bermunajat kepada Robbnya. Terlebih lagi, orang yang langsung tidur setelah shalat 'Isya' bermakna menutup amalnya di malam hari dengan shalat, yakni amal shalih ketaatan, bukan dengan perbuatan mubah yang sia-sia.

Hanya saja, kemakruhan mengobrol setelah shalat 'Isya' ini berlaku pada obrolan-obrolan yang tidak bernilai manfaat (apalagi obrolan maksiat). Jika obrolan/pembicaraan itu bernilai amal shalih dan manfaat, maka hal tersebut tidak mengapa. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah begadang di rumah Abu bakar bersama umar untuk membicarakan urusan kaum muslimin. Ahmad meriwayatkan;
مسند أحمد (1/ 311)
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْمُرُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ اللَّيْلَةَ كَذَلِكَ فِي الْأَمْرِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ وَأَنَا مَعَهُ

Dari Umar, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bermusyawarah semalaman dengan Abu Bakar tentang urusan kaum muslimin, dan aku bersamanya."
(H.R. Ahmad)

Riwayat At-Tirmidzi berbunyi;

سنن الترمذى - مكنز (1/ 297، بترقيم الشاملة آليا)
 عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْمُرُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ فِى الأَمْرِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ وَأَنَا مَعَهُمَا.

Dari Umar bin Al Khaththab ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah begadang  dengan Abu Bakar dalam permasalahan kaum muslimin, sedang aku bersama keduanya." (H.R. At-Tirmidzi)

Dari riwayat yang menujukkan perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini, bisa difahami bahwa yang dimaksud riwayat ketidaksukaan mengobrol setelah shalat 'Isya' adalah jika obrolan tersebut tidak ada kepentingan/maslahat bagi orang yang melakukannya. Artinya, obrolan tersebut termasuk obrolan Laghwun (sia-sia meskipun tidak dosa). Adapun jika obrolan yang mengandung manfaat, maka hal tersebut tidak mengapa. Asy Syaukani berkata;

نيل الأوطار (1/ 417)
طريقة الجمع بينها بأن توجه أحاديث المنع إلى الكلام الذي ليس فيه فائدة تعود على صاحبه وأحاديث الجواز إلى ما فيه فائدة تعود على المتكلم

Metode mengkompromikan diantara keduanya (hadis-hadis yang melarang obrolan setelah shalat 'Isya' dan yang membolehkan) adalah  dengan menyimpulkan bahwa hadis-hadis larangan yang dimaksud adalah pembicaraan yang tidak ada manfaat bagi pelaku. Adapun hadis-hadis yang membolehkan difahami bahwa hal tersebut berlaku pada pembicaraan yang memberi manfaat bagi penutur (Nail Al-Author, vol 1, hlm 417)

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar