Tuesday, 27 November 2012

ISLAM DAN HISTORITAS STUDI AGAMA



12.1          Islam dan Studi Agama
Islam lahir di Mekah tahun 611 M ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama. Islam di turunkan di jazirah arab untuk mengangkat masyrakat arab pada masa jahiliyah.
Islam berkembang dengan pesat dikarenakan islam memiliki karakteristik yang bersifat terbuka untuk didekati dengan berbagai macam pemahaman. Begitu juga di Negara kita islam begitu cepat berkembang di karenakan :
a.       Ajarannya sederhana, mudah dimengerti dan diterima.
b.       Syaratnya mudah, hanya dengan ucapkan kalimat Syahadat, yang berisi pengakuan adanya “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”
c.        Islam tidak mengenal kasta, sehingga lebih menarik bagi rakyat biasa yang jumlahnya justru lebih besar.
d.       Upacara-upacara keagamaan sangat sederhana.
e.        Islam disebarkan dengan cara damai lewat kesenian dan akulturasi dengan kebudayaan setempat.
f.        Jatuhnya Majapahit dan Sriwijaya menyebabkan kerajaan-kerajaan Islam berkembang pesat.
Dan di Indonesia itu sendiri adalah Negara kepulauan yang memiliki masyarkat dengan berbagai  jenis kebudayaan dan adat– adat yang berbeda– beda. Oleh sebab itu maka akan timbul perbedaan pemikiran. Perbedaan pemikran dalam agama islam di pengaruhi oleh suatu kebudayaan dan karakteristik masyarakat di wilayah tersebut, begitu juga tiap negara memiliki  budaya yang berbeda-beda dan karakteristik masyarakat yang berbeda-beda pula. Contohnya saja pemikiran orang Indonesia dengan orang timur tengah. Pemikiran islam di timur tengah cenderung dikuasai oleh pandangan bahwa islam semata-mata sebagai norma saja, sedangkan di Indonesia menggunakan instrumentasi arab dan mengalami penggabungan budaya lokal.
Karena perbedaan pemikran agama yang berbeda-beda mungkin akan terjadi sebuah konflik. Contohnya saja yang terjadi pada tahun 2011 di desa Cikeusik, Pandeglang, Banten (Minggu (6/2). Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, untuk kesekian kalinya kelompok Ahmadiyah kembali menjadi sasaran penyerangan oleh sekelompok orang. Dan tak lama kemudian tiga warga Ahmadiah tewas. Tak lama setelah itu, akibat ketidakpuasaan terhadap proses pengadilan, sekelompok umat tertentu melakukan penyerangan terhadap beberapa tempat ibadah umat lain di Temanggung (Selasa 8/2).
Selain itu juga terjadi sebuah pembakran gereja di pasuruan dan situ bindo pada pertengahan tahun 1990an dan pengeboman terhdapa gereja di sejumlah kota besar di Indonesia pada malalm natal 2000. Kekerasan semacam ini tentu saja menciderai ketenangan kehidupan beragama di dalam masyarakat, dan di tingkat internasional, telah mencoreng wajah Indonesia yang sering mencitrakan diri sebagai negara yang menghormati kebebasan beragama. Orang lantas bertanya-tanya tentang masih adakah ruang kebebasan beragama di republik ini.
Dalam kondisi masyarkat yang pluralistic dengan fasilitas teknologi yang maju, pemahaman terhadap agama dan keagamaan menjadi suatu yang sangat penting untuk dilakukan secara tepat dan benar karena sering masyrakat mencampur aduk kepentingan social dengan agama sehingga sulit dibedakan mana wilayah agama sebenarnya dan mana pula wilayah “ kepentingan “ historis kultur yang juga melekat di dalamnya. Selain itu juga hubungan antara perilaku keagamaan masayarakat dengan kemajuan teknologi sangat erat sekali, bahkan saling mempengaruhi. Perilaku keagamaan masyarkat akan berubah seiring dengan kemajuan-kemajuan yang di capai oleh teknologi. Begitu pula sebaliknya, teknologi dapat dipicu perkembangannya oleh inspirasi-inspirasi agama yang wujud dalam perilaku keagamaan masyarakat pemeluknya.
12.2          Signifkansi Studi Agama
Studi (Agama) Islam secara etimologis merupakan terjemahan dari Bahasa Arab Dirasah Islamiyah. Sedangkan Studi (Agama) Islam di barat dikenal dengan istilah Islamic Studies. Maka studi Islam secara harfiah adalah kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Makna ini sangat umum sehingga perlu ada spesifikasi pengertian terminologis tentang studi Islam dalam kajian yang sistematis dan terpadu. Dengan perkataan lain, Studi Islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memhami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.
Agama dan kehidupan beragama tak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang. Setidaknya ada lebih dari 5 agama besar yang penganutnya menyebar di seantero jagat raya. Mempelajari agama bukanlah hanya hak pemeluk agama itu sendiri tetapi juga diperbolehkan bagi orang yang agamanya berbeda. Bagi pemeluk agama sendiri mempelajari agama tujuannya adalah untuk memperdalam pengetahuannya tentang agamanya dan meningkatkan kepercayaan terhadap agamanya tersebut. Sementara bagi "orang luar" mempelajari agama adalah semata-mata untuk ilmu pengetahuan dan pemuasan intelektualisme. 
Dalam konteks islam agama bias dilakukan penelitian atau studi dengan menggunakan 2 metode, yaitu:
1.                  Meliputi aspek normativitas, yaitu ajaran wahyu yang dibahas melalui pendekatan doktrinal teologis.
2.                  Meliputi aspek historis, yaitu studi kebudayaan Muslim yang dibahas melalui pendekatan keilmuan sosial-keagamaan yang bersifat multi dan interdisipliner.
Studi Islam normatif sudah dimulai oleh orang Islam sejak berdirinya Islam itu sendiri. Mereka mempelajari ajaran-ajaran, wahyu, ibadah ritual dan doktrin yang mutlak benar dan tak dapat dilakukan penelitian atasnya sehingga terkesan statis dan apologetic.
Sementara Islam historis mulanya dipelajari oleh orientalist dan semakin populer di abad 20 hingga sekarang. Orientalist adalah orang yang belajar tentang ketimuran atau budaya timur yang secara salah kemudian diartikan sebagai orang non-muslim yang mempelajari tentang Islam. Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk mencari kelemahan Islam. Yang biasanya mereka tonjolkan adalah kontradiksi dalil-dalil dalam Quran dan Sunnah, tentang rendahnya posisi wanita dalam ajaran Islam serta kelemahan-kelemahan pribadi Nabi.
Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa Studi Islam jadi hal penting untuk dipelajari, baik studi Islam historis, bahkan yang dikembangkan oleh orientalis sekalipun, untuk mengenal serangan-serangan mereka dan tentu akhirnya mengetahui cara mengcounterserangan tersebut. Sedangkan studi Islam normatif sudah barang tentu juga penting untuk mendalami ajaran Islam itu sendiri dan pada akhirnya bisa diterapkan dalam kehidupan. Bayangkan, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia ternyata juga meraih posisi teratas dalam korupsi dan kejahatan. Apa ada yang salah dengan Islam? tentu tidak. Yang salah adalah kenapa orang Islam enggan belajar dan medalami agamanya dan menerapkan ajaran agamanya dalam kehidupannya.



12.3        Tumbuh Kembangnya Studi Islam
Studi Islam atau islamologi merupakan ilmu yang mempelajari dan mengkaji agama islam hanya sebatas ilmu pengetahuan.
Peradaban islam modern diwarnai oleh dinamika masyarakat melalui pusat pembelajaran mulai dari kuttab, masjid,  perpustakaan, madrasah, perpustakaan, madrasah, pesantren, sekolah hingga perguruan tinggi di masa modern ini.
Pada masa klasik, juga diwarnai oleh dinamika masyarakat yang baik di dunia islam maupun dibarat. Di dunia Islam, pada saat dinasti ‘Abbasiyah dipimpin oleh Khalifah al-Ma’mun (813-833) di Baghdad degan didirikannya Bayt al-Hikmah. Di dunia Barat, didirikan Universitas Cordova oleh dinasti Umaiyah dan dipegang oleh ‘Abd al-Rahman III(929-961).
Dalam perjalanannya, islamologi menemukan pemantapannya pada tahun 1950-an. Pada tahun itu juga muncul universitas ternama di Amerika Serikat seperti Harvard, UCLA, Chicago University yang banyak menekankan pada bidang pemikiran, bahasa arab, naskah klasik, dan bahasa Islam non-Arab, hingga akhir tahun 1970-an.
Sementara itu, di negeri Islam, penempatan studi Islam sangat variatif. Di Iran terdapat 2 Universitas besar yang melakukan kajian islam yaitu Universitas Teheran dan Universitas Iman yang sama-sama menyelenggarakan studi Islam.
Sedangkan di Indonesia, terdapat lembaga khusus yang menangani keilmuan Islam, yakni  Institut Agama Islam dan Sekolah Tinggi Agama Islam. Kajian keilmuan yang dikembangkan adalah, ilmu al-Quran Hadith, Ilmu pemikiran dalam islam, ilmu Fiqh dan Pranata Sosial, ilmu sejarah dan peradaban Islam, ilmu bahasa, ilmu pendidikan islam , ilmu dakwah islamiyah dan ilmu perkembangan pemikiran Indonesia.

12.4          Institusional Studi Islam di Indonesia
Kajian islama di indonesia bukanlah tumbuh dan berkembang dari realitas histori yang kosong  ialah hadir secara kronologis dalam kontek ruang dan waktu yang jelas. Secara subtantif kajian islam sebenarnya sudah di mulai sejak agama ini datang ke indonesia sejak abad ke 13 dan mencapai momentum spiritual pada abad ke 17. Proses transformasi islam tidak bisa lepas dari  peran dari para ulama dan tokoh-tokoh pemimmpin pergerakan para sufi karena di akui terdapat keterkaitan historis yang sangat eksentif antara umat islam indonesia dengan para ulama di Jazirah Arab seprti Mekah, Madinah dan belakangan ini Kairo. Hubungan keagamaan tersebut relatif dinamis dan dialektis diantara mereka.
Proses transformasi dan modernisasi terjadi ketika kolonial Belanda memperkenalkan sistem pendidikan sekolah kepada masyarakat pribumi dan dampaknya disrasakan oleh pesantren melalui penyelenggaraan pengajaran kelas. Salah satu impilkasi mendasar adanya proses transformasi lembaga pendidikan ini menyebabkan sebagian elemen masyarakat muslim menginginkan kehadiran lembaga tinggi bagi pengkajian dan pengajaran Islam.
Setelah kemerdekaan RI, seiring dengan berpindahnya ibukota akibat revolusi dari Jakarta ke Yogyakarta, maka maka keberadaan sekolah tinggi islam tersebut mengikuti gerak para aktivis republik. Pada tanggal 10 April 1946, sebuah perguruan islam berdiri di yogyakarta dan kemudian beralih status menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada Tanggal 10 Maret 1948 dengan 4 fakultas: Kajian Islam, Hukum, Ekonomi dan Pendidikan. Sebagai penghargaan pemerintah atas perjuangan Umat Islam dalam memperoleh kemerdekaan RI, mak pda tahun 1951 pemerintah meresmikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang di ambil dari fakultas Kajian Islam UII yang memiliki 4 fakultas: Fakultas Dakwah, Fakultas Qada’, Fakultas tarbiyah. Kurang lebih 8 tahun kemudian Fakults Adab ditambah melengkapi keempat fakultas yang ada setelah di integrasi dengan ADIA di Jakarta.
Integrasi kedua perguruantinggi Islam diatas melahirkan sebuh lembaga pengkajian Islam yang kemudian di sebut sebagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan 5 fakultas: Dakwah, Ushuluddin, Syari’ah, Tarbiyah dan Adab. Sementara IAIN Yogyakarta dan Jakarta berdiri secara independen. Belakangan ini muncul ide dari kalangan pembuat kebijakan pendidikan tinggi Islam untuk mengembalikan semangat kajian Islam yang lebih Komprehensif lagi. Ke depan IAIN akan di kembangkan dalam bentuk Universitas Islam Negeri (UIN) yang mewadahi kajian-kajian ke-Islaman dan Ilmu-ilmu sekuler.
Terlepas dari persoalan transformasi IAIN ke UIN, maka sejak berdirinya IAIN membawa tugas utama yaitu: sebagai lembaga ke-Agamaan dan ke-Ilmuan. Sebagai lembaga keagamaan IAIN membawa misi religius untuk memberikan pencerahan. Sedangkan sebagai lembaga keilmuan, IAIN diharapkan menjadi avant garde dalam mengkajiIslam sebagai sebuah disiplin, akademis, bukan sebagi doktrin agama.

A.      Tujuan Studi Islam
Bagi umat Islam, mempelajari Islam mungkin untuk memantapkan keimanan dan mengamalkan ajaran Islam, sedangkan bagi non muslim hanya sekedar diskursus ilmiah, bahkan mungkin mencari kelemahan umat Islam dengan demikian tujuan studi Islam adalah sebagai berikut:
Pertama, untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkan secara benar, serta menjadikannya sebagai pegangan dan pedoman hidup. Memahami dan mengkaji Islam direfleksikan dalam konteks pemaknaan yang sebenarnya bahwa Islam adalah agama yang mengarahkan pada pemeluknya sebagai hamba yang berdimensi teologis, humanis, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan studi Islam, diharapkan tujuan di atas dapat di tercapai.
Kedua, untuk menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai wacana ilmiah secara transparan yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Dalam hal ini, seluk beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang berlaku bagi umat Islam dijadikan dasar ilmu pengetahuan. Dengan kerangka ini, dimensi-dimensi Islam tidak hanya sekedar dogmentis, teologis. Tetapi ada aspek empirik sosiologis. Ajaran Islam yang diklain sebagai ajaran universal betul-betul mampu menjawab tantangan zaman, tidak sebagaimana diasumsikan sebagian orientalis yang berasumsi bahwa Islam adalah ajaran yang menghendaki ketidak majuan dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman

Reactions:

0 comments:

Post a Comment